Articles by "Morowali Utara"
Tampilkan postingan dengan label Morowali Utara. Tampilkan semua postingan

(Foto : pada saat pelaksanaan Pesta Woke di Kolonodale, November 1986)

ARTI WOKE
Woke adalah salah satu upacara hadat kematian suku Mori, yaitu untuk menghormati keluarga atau pahlawan yang telah meninggal dunia.
Woke artinya “menjadi” atau “terlepas”. Mengandung arti bahwa dengan adanya pesta Woke maka perkabungan telah dilepaskan.
Woke berarti juga upacara pemindahan tulang-tulang dari TOMBEA (kubur sementara) menuju ke TASIMA (Puuwasu) yakni kubur didalam gua-gua batu.
Upacara pemindahan tulang-tulang dari Tombea ke Tasima disebut : METASU.
Woke berlaku bagi umum (Bangsawan maupun dari kalangan masyarakat biasa) asalkan mampu mengadakan pesta dengan pembiayaan yang sangat besar.
Woke dapat dilaksanakan secara perorangan dan dapat juga secara kolektif (bersama-sama).
Woke bagi bangsawan dilaksanakan dengan membunyikan TOMBORI MOKOLE, sedangkan untuk rakyat biasa dibunyikan TOMBORI MPALILI.

BANGUNAN PESTA WOKE
TOMBEA (Kubur Sementara) : apabila seseorang meninggal dunia, maka mayatnya disimpan di Tombea. Jika seorang bangsawan atau tadulako, maka ditutupi dengan atap. Jika rakyat biasa, hanya dengan Tombea terbuka. Mayat-mayat yang berada di Tombea, disimpan dalam peti mayat berukir (untuk bangsawan) yang disebut SORONGA. Sedangkan untuk rakyat biasa, peti mayatnya tidak berukir dan disebut POLEBANGKA.

PEWUA : yakni sebuah bangunan yang berukuran 2 x 2 Meter, dibuat dinding keliling dengan kait putih yang disebut KULAMBU. Bangunan ini dimaksudkan untuk tempat tulang belulang orang meninggal yang disemayamkan sesudah dikumpulkan dari TOMBEA.

SI’E : adalah sebuah bangunan berukuran 2 x 2 Meter yaitu tempat menyimpan padi. Pada bagian bawah dibuat satu tingkat yang disebut PALAMPA. Disekitar SI’E merupakan pusat kegiatan (menumbuk padi, membuat MISA, memasak winalu dan sebagainya). SI’E melambangkan kesejahteraan, berarti arwah yang akan dihentar tersebut telah dipersiapkan dengan perbekalan yang serba cukup.

DOPI (arena tarian) : yang terdiri dari beberapa lembar papan berbentuk segi panjang (ukuran 16 x 12 meter). Disinilah dipertunjukkan tarian yang disebut LENSE, WAINDO, TINGKE, dan sebagainya.

LIASA : adalah sebuah bangunan yang berukuran 2 x 3 Meter, terletak ditengah-tengah arena DOPI, digunakan sebagai tempat menabuh gong dan gendang, saling bersahut-sahutan mengiringi gerak langkah tarian LUMENSE dan CAKALELE.

TIMBARATI : yakni sebuah bangunan yang berukuran 3 x 3 Meter, tempat menambatkan sejumlah kerbau yang akan dibantai oleh Tadulako yang sedang menggendong MISA/PASARU dan diiringi tarian LUMENSE. Jumlah kerbau yang akan dibantai adalah sejumlah orang meninggal yang sedang diupacarakan. Kerbau melambangkan kekuatan.

SOLIKA : yakni sebuah bangunan berukuran 2 x 3 Meter, dibuatkan dinding dengan kain putih yang dibawahnya seperti halnya PEWUA dan SI’E. Disinilah arwah diberi makan dengan Winalu yang kecil-kecil, daging goreng dan telur ayam. Makanan ini dimaksudkan sebagai persiapan terakhir bagi arwah untuk melanjutkan perjalanan, melintasi jalan lurus “TETEMELEMBO” menuju ke negeri arwah “TONUANA”.

TASIMA/PUUWASU (Gua Batu sebagai Kubur) : yaitu tempat menyimpan pasaru-pasaru dan tulang-belulang yang telah dimasukkan dalam guci ataupun peti kayu yang disebut TOLO’EA, bersama semua harta benda orang mati yang diberikan sebagai tanda kesayangan (misalnya tombak, pedang, perhiasan, dan lain-lain).

BANTAEA: adalah sebuah bangunan besar yang dibuat untuk tempat menjamu makan bagi para tamu.


PERSONIL DALAM PESTA WOKE

ONITU : yaitu beberapa orang laki-laki berpakaian hitam sebagai penjaga kubur/Tombea pada waktu siang dan malam. Makanan mereka setiap harinya diperoleh dengan cara sembunyi-sembunyi dari rumah-rumah tetangga. Hal ini tidak dapat dicegah walaupun sering diketemukan.

TONGGOLA : adalah tokoh wanita dalam masyarakat yang selalu bertugas untuk MEPOBINI (memungut tulang-tulang orang mati) sekaligus penjaga PASARU.

WURAKE MPU’U : Wanita-wanita yang telah dewasa setelah melalui upacara WURAKE (peremajaan). Mereka ini dianggap sebagai Seniwati didalam masyarakat.

TADULAKO : Sebagai pemimpin dalam masyarakat.

ROMBONGAN LENSE DOPI : Berjumlah ± 30 orang wanita penari. Pakaian mereka berwarna-warni yang cukup menarik (merah, kuning, hitam) yang merupakan warna ciri khas Mori dan dihiasi manik-manik. Warna hitam melambangkan kedukaan. Dikepala mereka memakai PASAPU.

ROMBONGAN TENGKE DOPI : Berjumlah ± 30 orang pria dan wanita. Pria memakai baju warna biru laut dan celana warna merah yang dihiasi dengan manik-manik. Dikepala mereka memakai SANGGORI dan LAELAKU (bulu ayam jago), unte, talisi-lisi dari kain laken berwarna kuning dan berumbai-rumbai (sukalati). Dilengan mereka memakai KIMA (buso), memakai ikat pinggang dari kain berwarna kuning emas yang disebut GILI. Dikaki mereka memakai SUNGGARE (giring-giring).
Wanita memakai baju berwarna kuning, kain sarung berwarna merah yang dihiasi dengan manik-manik. Dikepala mereka memakai SIRA.

PENABUH GONG DAN GENDANG : Terdiri dari pria yang menggunakan Pakaian Hadat.


PELAKSANAAN PESTA WOKE
Setelah para Tonggola selesai mepobini dan membungkus tulang-belulang pada kain putih, mereka menuju ke PEWUA/Serambi tempat persinggahan pertama setelah satu malam. PASARU/MISA dihiasi didalam KULAMBU dan diiringi dengan membunyikan TOMBORI.

Pada siang hari, Pasaru/Misa dibawah ke SI’E dan langsung ditempatkan pada PALAMPA yang dikelilingi dengan KULAMBU. Ditempat itu dijaga oleh para Tonggola.

Setelah tanda dimulai dengan bunyi gong, diserahkanlah Pasaru/Misa kepada WURAKE MPU’U sambil diiringi bunyi PONTOMBORI secara terus menerus. Para WURAKE MPU’U yang menggendong MISA berjalan dengan didahului oleh tiga orang Tadulako momaani (cakalele) dan rombongan LENSE DOPI naik keatas DOPI sambil menari Lumense. Gendang Pontombori diganti dengan gendang LENSE PONTOMBEI (Lense Dopi).

Selesai mengelilingi dengan dua kali putaran di arena Dopi, Wurake Mpu’u menyerahkan Misa/Pasaru kepada Tadulako Metida yang sudah siap menerimanya.

Sambil momaani (cakalele) dan menggendong Misa, Tadulako metida menuju ke PETIDA/TIMBARATI. Dengan tangan kiri ia memegang/menggendong Misa, dan tangan kanan menetakkan pedangnya pada kaki-kaki kerbau yang akan dibantai.

Selesai acara metida, Tadulako metida sambil momaani (cakalele) menuju Dopi dan menyerahkan Misa tersebut kepada Wurake Mpu’u. Sambil menari, Wurake Mpu’u menggendong Misa dan membawanya ke SOLIKA untuk ditempatkan disana.

Di Solika, para Tonggola menerima kembali Pasaru/Misa dari tangan WURAKE MPU’U dan langsung mendudukkan diatas tikar, serta memberi makan dengan hidangan yang telah disiapkan diatas dulang yang terdiri dari WINALU (nasi bungkus kecil-kecil), telur ayam, minuman, daging tanpa kuah. Lampu damar dinyalakan.

Sementara itu, acara diatas DOPI dilanjutkan dengan METINGKE. Rombongan Tingke naik keatas DOPI dan mulai MOWAINDO, yang syair-syairnya merupakan percakapan antara orang yang masih hidup dengan orang mati/arwah.

Setelah MOWAINDO, dilanjutkan dengan METINGKE MEWUWUKUI, yang syairnya merupakan nasihat-nasihat agar berperilaku yang baik disepanjang hidup ini. Selain itu, sering juga muncul syair-syair sindiran yang dapat menyinggung perasaan arwah, yang menjadikan arena DOPI menjadi sangat ramai.

Selesai acara TENGKE DOPI, dilanjutkan dengan acara menghentar MISA/PASARU ke TASIMA, dan acara ini disebut Motasu. Gendang dibunyikan, para Tonggola mengangkat Misa/Pasaru, lalu menyerahkan kembali kepada para Wurake Mpu’u. Tadulaku momaani (cakalele) didepan dan diikuti tiga orang Wurake Mpu’u yang maju menjemput Misa. Sambil menggendong Misa, ketiga Wurake Mpu’u berjalan menuju DOPI yang diiringi rumbongan lense dan melakukan tari-tarian. Dua kali mengelilingi DOPO, rombongan turun dari DOPI dan menuju Tasima yang didahului Tadulako momaani didepan rombongan. 
Barisan rombongan menuju Tasima, sebagai berikut :
  • Barisan momaani (cakalele) 3 orang Tadulako
  • 3 orang Wurake Mpu’u
  • Penabuh Gong dan Gendang berada disisinya
  • 3 orang Wurake menggendong Misa/Pasar
  • Rombongan Lense disebelah kanan Misa dan rombongan Tingke disebelah kiri Misa.
  • Rombongan Umum
Sepanjang perjalanan menuju Tasima, gong dan gendang terus dibunyikan, dengan maksud agar arwah yang dihentar itu tidak lagi mengganggu orang yang masih hidup.
Sementara Tadulako momaani (cakalele), para Tonggola masuk kedalam Tasima (Gua Batu) serta meletakkan Pasaru. Tulang yang telah dibungkus rapih diletakkan disana bersama barang-barang yang akan ditinggalkan, diisi dalam guci atau peti kayu yang disebut TOLO’EA.

Setelah selesai upacara peletakan Pasaru/Misa, para Tonggola keluar dari Tasima. Didepan Tasima, Tadulako sekali lagi momaani (cakalele), kemudian semua rombongan kembali menurut barisan menuju Bantaea tadi.

Sementara dalam perjalanan, rombongan ini dicegat oleh sekelompok penghadang, dan terjadilah “METUTUMBANSOLIKA” (saling lempar-lemparan dengan batang nenas hutan). Setelah beberapa menit peristiwa itu berlangsung, maka ternyata kelompok penghadang yang menang, berarti arwah yang telah dihgentar tadi tidak akan kembali lagi.

Pada malam hari dilanjutkan dengan pesta makan minum yang begitu meriah, orang saling siram-siraman dengan tuak dan lempar-lemparan dengan daging. Acara terakhir yaitu dengan MOWOLITE DOPI (membalikkan papan) tempat menari tadi. Dengan selesainya acara MOWOLITE DOPI, berarti seluruh tata upacara Pesta Woke dinyatakan selesai dan para undangan maupun para MANTAKO (pendatang yang tidak diundang) kembali kekampung masing-masing.

Tulisan ini merupakan cuplikan budaya “UPACARA HADAT KEMATIAN di WITA MORI” yang disusun oleh Himpunan Pengembangan Kebudayaan Wita Mori (HPKWM) untuk diserahkan pada Tim Shooting Wisata Budaya, dalam rangka pengembangan Kebudayaan Nasional.

Disusun di Kolonodale pada Oktober 1986

Penyusun :
S. Sane
S.Bambari
R. Monsangi, BA
Ten Marunduh
Tulisan ini kami khususkan untuk generasi muda Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat saat ini, banyak hal positif yang dapat dituangkan baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Begitu mudahnya kita diberikan kebebasan untuk berkreasi, berinovasi, menuangkan ide-ide terbaik untuk kemajuan daerah. Bahkan peninggalan sejarah dimasa lalu yang mungkin saat ini mulai usang, mulai hilang satu persatu dengan perkembangan zaman, dapat kita dokumentasikan melalui kecanggihan teknologi saat ini.

Sebut saja beberapa media sosial yang dapat menjangkau semua orang diseluruh dunia, Facebook, Blogger, Wordpress, dan masih banyak media sosial lainnya.
Jangan kita malas-malasan bahkan super cuek dengan perkembangan teknologi, tetapi haruslah kita terus mengikuti bahkan berperan didalamnya.

Salah satu contoh hasil karya orang-orang tua kita terdahulu, yang mempunyai tujuan untuk memperkenalkan budaya yaitu dengan menerbitkan SINOPSIS tentang “Upacara Hadat Kematian (Pesta Woke) di Wita Mori, Lumense Pahlawan, Tari Melere.”

Sinopsis ini diterbitkan pada Oktober 1986 oleh Himpunan Pengembangan Kebudayaan Wita Mori (HPKWM) yang pada saat itu diketuai oleh Bapak A. TAMAWIWI (Almarhum).
Camat Petasia pada waktu itu, Bapak Drs. Johny Badu, menyampaikan sambutan tertulis dan dimuat pada halaman pertama, mengatakan : “dengan adanya Sinopsis ini, bukanlah berarti bahwa daerah Wita Mori ingin menonjolkan sifat feodal dan kedaerahan yang sempit, tetapi sesungguhnya dengan terbitnya Sinposis ini, daerah Wita Mori akan menyatakan prinsip Bhineka Tunggal Ika, serta mengakui bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama dan adat kebiasaan yang mewajibkan kita tetap bersatu sebagai Bangsa Indonesia, karena persatuan dan kesatuan bangsa merupakan modal utama bagi Bangsa kita untuk maju serta mencapai cita-cita”.

Walaupun hanya dibuat dengan cara sederhana sesuai zamannya pada waktu itu, tetapi kami menilai bahwa ini adalah hasil karya yang sangat berharga. Kita yang belum tahu, menjadi tahu.
Tugas kita sekarang adalah bagaimana mempertahankan bahkan terus menyebarluaskan peninggalan budaya dari orang-orang tua kita terdahulu. Kita adalah pewaris budaya.
Ayo kita menggali peniggalan budaya daerah kita, dokumentasikan, publikasikan.

Tanpa berkarya, kita takkan berjaya.
Kita kuat, jika kita satu.

BERSAMBUNG PADA TULISAN BERIKUTNYA (Isi dari Sinopsis karya HPKWM)

Sebagai generasi yang ada di zaman sekarang ini, tentunya kebutuhan akan jaringan seluler yang disediakan oleh penyedia jasa provider, mulai dari SMS, Telepon, Internetan, menjadi dambaan kita semua. Tentunya yang didambakan adalah kualitas layanan yang maksimal, semua fasilitas layanan yang disediakan bisa dinikmati dengan sepuas-puasnya.
Mungkin di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan lain-lain, pengguna jasa layanan seluler bisa menikmati dengan begitu baik. Kualitas jaringan diperbaharui bahkan lebih ditingkatkan setiap saat, sesuai kebutuhan dengan melihat peninggkatan jumlah penggunanya.
Tetapi bagimana dengan yang ada didaerah-daerah lain?

Lewat tulisan ini, izinkan saya menyampaikan keluhan yang ada di daerah saya, Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah. Kalau berbicara secara luas, se Kabupaten, mungkin terlalu panjang. Oleh karena itu saya lebih khususkan untuk wilayah Ibukota Kabupaten Morowali Utara yaitu Kolonodale.

Kolonodale adalah kota kecil yang sedang berkembang, merupakan ibukota Kabupaten Morowali Utara yang adalah Daerah Otonomi Baru. Saat ini sedang giat-giatnya berkembang untuk bisa setara ataupun mengejar ketinggalan dengan daerah lain yang sudah berkembang sejak lama. Salah satu fasilitas yang sangat dibutuhkan agar suatu daerah bisa berkembang adalah adanya alat telekomunikasi yang memadai. Jaringan seluler adalah satu-satunya alat utama yang sangat menunjang, dengan berbagai fasilitas yang disediakan, mulai dari SMS, Telepon hingga Internetan.

Dengan perkembangan saat ini, semua pekerjaan baik di Pemerintah Daerah maupun swasta, semuanya dituntut untuk serba Online. Untuk di Pemerintah Daerah yang saya ketahui, ada beberapa tugas-tugas pekerjaan yang diwajibkan untuk mengerjakannya secara Online. Sebut saja, e-Tendering, e-Budgeting, eLHKPN, aksi Pencegahan Korupsi, dana masih banyak lagi.

Kondisi Jaringan Seluler di Kolonodale
Untuk wilayah ibukota Kabupaten Morowali Utara (Kolonodale), saat ini tersedia 2 buah tower BTS yang dimiliki oleh salah satu operator seluler terbesar di Indonesia. Tower tersebut melayani Kota Kolonodale dan beberapa desa disekitarnya. Untuk kualitas jaringan, sangat buruk dan sangat tidak memuaskan. Sejak adanya tower BTS pada Tahun 2006 sampai sekarang ini, tidak pernah ada peningkatan kualitas layanan. Sementara, pengguna layanan ini setiap harinya bertambah.

Harapan kami sebagai pelanggan setia, kiranya pihak penyedia layanan seluler yang ada saat ini, bisa datang langsung dan membenahi perangkat yang ada di Kota Kolonodale.
Semoga tulisan ini juga dapat dibaca oleh semua pihak yang ada sangkut pautnya dengan masalah telekomunikasi, dan tentunya bisa mencari solusi sehingga keluhan-keluhan ini bisa teratasi. Butuh "perjuangan" untuk bisa posting tulisan ini
Logo Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali Utara merupakan Lambang Daerah yang telah ditetapkan melalui Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Morowali Utara No. 1 Tahun 2015.

Lambang Daerah tersebut berkedudukan sebagai tanda identitas Daerah Kabupaten Morowali Utara yang berfungsi sebagai pengikat kesatuan sosial budaya masyarakat Kabupaten Morowali Utara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berikut ini penjelasan mengenai arti dan makna dari Logo Daerah Kabupaten Morowali Utara :
BINTANG MERAH BERBENTUK BAHTERA :

Melambangkan semangat juang yang tinggi, sehingga mampu berlayar melewati segala bentuk tantangan hingga sampai pada tujuan, serta harapan dan cita-cita besar yakni Kabupaten Morowali Utara yang handal dan berdaya saing.


GAMBAR SEGI EMPAT HORISONTAL BERWARNA PUTIH BERTULISKAN “MOROWALI UTARA” :

Mengartikan Pemerintahan Kabupaten Morowali Utara harus dijalankan secara jujur, adil, bersih, berwibawa serta mampu memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat.

GAMBAR SUMPIT :

Merupakan senjata tradisional penduduk Daerah Swapraja Mori (Suku Wana), yang digunakan untuk melindungi dan mempertahankan diri. Mengartikan Kabupaten Morowali Utara senantiasa melestarikan nilai-nilai budaya asli Daerah.

GAMBAR RUMAH ADAT DENGAN 4 (EMPAT) TIANG PENYANGGA :


Mengartikan masyarakat Kabupaten Morowali Utara adalah masyarakat yang beretika dan berbudaya, memiliki adat istiadat dan agama yang berbeda, saling toleransi dan menghormati, membuka diri dan saling menerima perbedaan, menghargai budaya dan kearifan lokal serta musyawarah mufakat dalam menyelesaikan masalah.
4 (Empat) tiang penyangga mengartikan dalam melaksanakan Otonomi Daerah, Kabupaten Morowali Utara senantiasa akan berpijak di dalam 4 (empat) pilar kebangsaan yaitu : Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika.
3 (tiga) anak tangga mengartikan 3 (tiga) unsur yang saling bersinergi di dalam masyarakat jamak/plural yaitu : Pemerintah, Agama (Tokoh Agama) dan Adat (Toko Adat).

GAMBAR PEDANG DAN PERISAI (Ponai dan Kanta) :



Melambangkan patriotisme, rela berkorban (mengutamakan kepentingan masyarakat dan daerah di atas kepentingan pribadi dan golongan) mempertahankan nilai-nilai histroris sejarah dan budaya, rasa memiliki terhadap Daerah serta bangga sebagai masyarakat Kabupaten Morowali Utara.
Warna Hitam melambangkan kepahlawanan.
Warna Merah melambangkan semangat kecintaan, kekuatan dan keberanian.

GAMBAR PADI DAN KAPAS :


Mengartikan simbol kemakmuran sbagai harapan masyarakat untuk hidup makmur dan sejahtera.

Padi berjumlah 23 bulir dan Kapas berjumlah 10 buah mengartikan tanggal dan bulan hari jadi Kabupaten Morowali Utara.

GAMBAR PITA PUTIH BERTULISKAN “TEPO ASA AROA” :


Pita Putih mengartikan masyarakat Morowali Utara, memiliki semangat kekeluargaan dan persaudaraan yang tinggi serta ketulusan hati yang murni.
TEPO ASO AROA, mengartikan sehati sepikir (satu kata, satu tekad dan satu tujuan) serta merasa senasib dan sepenanggungan dalam membangun dan mewujudkan Kabupaten Morowali Utara yang makmur dan sejahtera.


GAMBAR SEGITIGA BERWARNA PUTIH DAN HIJAU :
Segitiga berwarna Hijau mengartikan Kabupaten Morowali Utara merupakan Daerah hutan dan pegunungan, memiliki hutan lindung/cagar alam yang terkenal akan flora dan faunanya, serta hasil hutan yang berlimpah sebagai modal pembangunan Daerah.

Segitiga berwarna Putih mengartikan Kabupaten Morowali Utara akan selalu bercahaya (berseri) serta penuh kedamaian.

Salah satu kebanggaan Kabupaten Morowali Utara adalah memiliki lautan yang teduh dengan Teluk Tolo dan Teluk Tomori, panorama Batu Payung yang indah sebagai salah satu objek wisata laut dan menyimpan keanekaragaman jenis kekayaan laut yang melimpah sebagai sumber komoditas unggulan dari sektor perikanan dan kelautan, serta pariwisata sebagai penunjang program pembangunan Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali Utara.

GAMBAR LAUT :

Salah satu kebanggaan Kabupaten Morowali Utara adalah memiliki lautan yang teduh dengan Teluk Tolo dan Teluk Tomori, panorama Batu Payung yang indah sebagai salah satu objek wisata laut dan menyimpan keanekaragaman jenis kekayaan laut yang melimpah sebagai sumber komoditas unggulan dari sektor perikanan dan kelautan, serta pariwisata sebagai penunjang program pembangunan Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali Utara.
Kabupaten Morowali Utara juga merupakan Kota Pelabuhan Nasional.

GAMBAR BERWARNA HIJAU :
Mengartikan simbol kesuburan sumber daya alam dimana Kabupaten Morowali Utara merupakan Daerah yang sangat subur sehingga sektor pertanian dan perkebunan merupakan salah satu sektor primadona (sektor utama/unggulan) Pemerintah Kabupaten Morowali Utara dalam melaksanakan program pembangunan Daerah. 

GAMBAR BERWARNA KUNING :
Melambangkan kerja sama dan energi sosial (masyarakat produktif, pekerja keras/tidak berpangku tangan) dimana masyarakat Morowali Utara dituntut untuk berperan aktif dalam mendukung/mensukseskan program pembangunan Daerah dengan kerja nyata sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki.

GAMBAR BINTANG BERWARNA KUNING EMAS :
Bintang mengartikan KeTuhanan, sedangkan warna Kuning Emas mengartikan Cahaya Kemuliaan sebagai harapan agar Kabupaten Morowali Utara akan senantiasa dilindungi dan diberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa.


Untuk mendapatkan Logo Morowali Utara dalam ukuran pixel yang besar, silahkan DOWNLOAD DISINI
Postingan kali ini terpaksa harus ditulis dengan omelan-omelan kecil bahkan bisa teriak-teriak kecil...hehehe Masalahnya? Padamnya listrik yang saat postingan ini dibuat, sudah yang ke sekian kalinya sejak bangun pagi....ngookkk!! Hal ini sudah berlangsung sejak lamaaaaaaaa. Hampir setiap hari, listrik padam bisa sampai 3 kali bahkan lebih. Seperti itulah keadaan kami di Kota Kolonodale, Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Sampe detik ini, kebanyakan masyarakat kota Kolonodale dan sekitarnya masih penasaran dengan pelayanan PLN Ranting Kolonodale yang sangat sangat sangat tidak memuaskan. Apa sebenarnya yang jadi permasalahan? Pihak PLN juga tidak pernah memberikan informasi yang jelas (seperti pegumumanlah...di rumah-rumah ibadah atau dijalanan) tentang padamnya listrik yang terjadi hampir setiap hari.

Apakah setiap hari ada pohon tumbang yang merusak jaringan listrik?
Apakah setiap hari ada burung atau kelelawar yang tersangkut di jaringan listrik?
Apakah setiap hari ada pemindahan tiang listrik karena proyek pelebaran jalan?
Tidak adakah solusinya?
Ataukah memang sudah dijadwalkan pemadaman setiap pagi, siang, sore, malam, tengah malam, subuh di waktu-waktu tertentu? Haaaaaaahhhhhhh.....


Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang sering dikeluarkan warga pada saat ngobrol soal pemadaman listrik. Tolong dong, pihak yang bisa jawab, “KASE-KASE TAU JUGA TORANG LE”.
Ini sebagian kecil bentuk kekecewaan warga yang diposting lewat FB ataupun BBM (hanya sebagian kecil), semoga kami diberikan pencerahan....

 
 

Berikut daftar nama Desa dan Kelurahan yang ada di Wilayah Kabupaten Morowali Utara (Klik Nama Kecamatan):
1. Kecamatan Petasia
2. Kecamatan Petasia Barat
3. Kecamatan Petasia Timur
4. Kecamatan Lembo
5. Kecamatan Lembo Raya
6. Kecamatan Mori Atas
7. Kecamatan Mori Utara
8. Kecamatan Soyo Jaya
9. Kecamatan Bungku Utara
10. Kecamatan Mamosalato


Kelurahan Kolonodale
Kelurahan Bahontula
Kelurahan Bahoue
Desa Ganda Ganda
Desa Gililana
Desa Koya
Desa Tanauge
Desa Korolaki
Desa Korololama
Desa Koromatantu
Kembali Keatas



Kecamatan Petasia Barat :
Desa Tiu
Desa Maralee
Desa Moleono
Desa Mondowe
Desa Onepute
Desa Sampalowo
Desa Tadaku Jaya
Desa Togomulyo
Desa Tontowea
Desa Ulu Laa
Kembali Keatas

Kecamatan Petasia Timur :
Desa Bungintimbe
Desa Bimor Jaya
Desa Bunta
Desa Keuno
Desa Malino
Desa Mohoni
Desa Molores
Desa Peboa
Desa Polewali
Desa Tompira
Desa Towara
Desa Towara Pantai
Kembali Keatas

Kecamatan Lembo :
Desa Beteleme
Desa Korowalelo
Desa Korobonde
Desa Korompeli
Desa Korowou
Desa Kumpi
Desa Lembo Baru
Desa Lemboroma
Desa Mora
Desa Tingkeao
Desa Tinompo
Desa Uluanso
Desa Waraa
Desa Wawopada
Kembali Keatas

Kecamatan Lembo Raya :
Desa Petumbea
Desa Bintangor Mukti
Desa Dalupo Karya
Desa Jamor Jaya
Desa Lembobelala
Desa Mandula
Desa Pa'awaru
Desa Po'ona
Desa Pontangoa
Desa Ronta
Kembali Keatas

Kecamatan Mori Atas :
Desa Tomata
Desa Ensa
Desa Gontara
Desa Kasingoli
Desa Kolaka
Desa Lanumor
Desa Lee
Desa Londi
Desa Pambarea
Desa Peonea
Desa Saemba
Desa Saemba Walati
Desa Taende Desa
Tomui Karya
Kembali Keatas

Kecamatan Mori Utara :
Desa Mayumba
Desa Era
Desa Lembontonara
Desa Peleru
Desa Tabarano
Desa Tamonjengi
Desa Tiwaa
Desa Wawondula
Kembali Keatas

Kecamatan Soyo Jaya :
Desa Bau
Desa Lembasumara
Desa Malino
Desa Malino Jaya
Desa Panca Makmur
Desa Sumara Jaya
Desa Tamainusi
Desa Tambayoli
Desa Tandoyondo
Desa Toddopuli Uebangke
Kembali Keatas

Kecamatan Bungku Utara :
Desa Baturube
Desa Boba
Desa Kalombang
Desa Lemo
Desa Lemowalia
Desa Matube
Desa Opo
Desa Pokeang
Desa Posangke
Desa Salubiro
Desa Siliti
Desa Tambarobone
Desa Tokala Atas
Desa Tanakuraya
Desa Taronggo
Desa Tirongan Atas
Desa Tirongan Bawah
Desa Tokonanaka
Desa Uemasi
Desa Uempanapa
Desa Ueruru
Desa Uewajo
Desa Woomparigi
Kembali Keatas

Kecamatan Mamosalato :
Desa Tananagaya
Desa Girimulya
Desa Kolo Atas
Desa Kolo Bawah
Desa Lijo
Desa Manyoe
Desa Momo
Desa Pandauke
Desa Parangisi
Desa Sea
Desa Tambale
Desa Tanasumpu
Desa Uapekatu
Desa Winangabino
Kembali Keatas

Semoga postingan ini bisa bermanfaat bagi sobat miamori....

Sebelum menulis banyak pada postingan kali ini, terlebih dahulu saya mohon maaf buat semua warga Kolonodale - Kabupaten Morowali Utara - Sulawesi Tengah...hehehe. Mungkin judul postingan ini dianggap melecehkan Kota Kolonodale, tetapi sebetulnya tidak. Sobat pasti akan paham jika terus membaca sampai habis postingan ini. Dijamiiiiiiiiin.... 

Pengalaman saya pribadi : "Kolonodale belum begitu dikenal oleh masyarakat luas". Artinya, kalau kita sebut "Kolonodale" kepada orang yang baru kita kenal, pasti masih bertanya-tanya : "Dimana ya?" "Kolonodale itu apa?" 

Satu contoh, sewaktu saya masuk kuliah Tahun 1997 di UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana) Salatiga. Berkenalan dengan teman baru, kalau sebut asal saya dari Kolonodale, pasti teman-teman bingung dan bertanya-tanya karena belum pernah mendengar nama daerah itu. Oleh karena itu, perkenalan-perkenalan selanjutnya, saya selalu menyebut asal daerah Poso. Dan ternyata Poso lebih sedikit dikenal. 

Mungkin kawan-kawan orang Kolonodale juga pernah mengalami hal seperti ini. Ketika bepergian keluar daerah, ataupun saat duduk dibangku sekolah/kuliah di daerah lain dan juga yang sudah mendapat pekerjaan didaerah lain. Itulah alasan saya membuat postingan kali ini. sebagai pengantar mata kuliah untuk masuk ke intinya, yaitu memperkenalkan Kota Kolonodale. Jika sodaraku dari Kolonodale ada yan ingin menambahkan ataupun meluruskan, disilahkan berkomentar. 

Kolonodale sebetulnya sudah dikenal sebelum Indonesia merdeka. Termasuk salah satu wilayah Kerajaan Mori yang dikategorikan sebagai Kerajaan Persemakmuran, aktif dalam perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda yang akan menguasai daerah-daerah pada waktu itu. Kerajaan Mori Tunduk pada Pemerintah Hindia Belanda pada Tahun 1907, dan menata pemerintahaanya sehingga pada Tahun 1942 Kolonodale ditetapkan sebagai salah satu dari 3 Distrik Pemerintahannya. 

Selengkapnya lihat di Mengenal Sejarah Kerajaan Mori 

Kolonodale adalah Ibukota Kabupaten Morowali Utara Propinsi Sulawesi Tengah yang merupakan salah satu Daerah Otonomi Baru, terbentuk berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 2013. Jauh sebelum itu, banyak ceritra panjang bagaimana kisah terbentuknya Kabupaten ini. Berawal dari terbentuknya Kabupaten Morowali Tahun 1999 yang merupakan hasil pemekaran wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. 

Lebih jelasnya sobat bisa membaca di Sejarah Singkat Kabupaten Morowali Utara. 

Kolonodale banyak menyimpan potensi kekayaan alam, seni dan budaya, sama seperti daerah lainnya. Walaupun belum sepenuhnya dapat digali dan dikelolah dengan baik, khususnya dalam hal menjadikan salah satu daerah wisata yang layak untuk dikunjungi. Hal ini tentunya terus diupayakan oleh Pemerintah Daerah dalam hal pengembangan potensi yang ada untuk mengejar ketinggalan dari daerah lainnya. 
Keseriusan Pemda Morowali Utara ini dituangkan dalam salah satu Program Prioritas untuk mencapai Visi dan Misi Morowali Utara, yaitu Konsep Pengembangan Pariwisata Morowali Utara yang diberi nama “Pariwisata Morut Berdaya”. 

Itulah sedikit perkenalan tentang Kota Kolonodale. Jika sobat ingin mengenal lebih jauh, bahkan mungkin ingin mengembangkan usaha (investasi) atau hanya sekedar ingin mengisi waktu luang, mungkin sobat memiliki hoby untuk berpetualang hehehe.... "Ayo ke Morowali Utara". 

Diakhir postingan ini, saya berikan sedikit info perjalanan menuju Kota Kolonodale, Morowali Utara, Sulawesi Tengah : 

Dari Poso (Ibu Kota Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah) : 
Berjarak kurang lebih 200an Km, ditempuh dengan kendaraan darat dalam waktu 6 jam. 
Tiket kendaraan berkisar Rp. 120.000,- 

Dari Palu (Ibu Kota Propinsi Sulawesi Tengah) : 
Perjalanan dari Palu ke Kolonodale dapat ditempuh dengan jalur darat, kendaraan roda empat dan roda dua, dengan jarak tempuh kurang lebih 431 Km. Untuk perjalanan santai dapat ditempuh dalam waktu 10 Jam.  Tiket kendaraan (Rental) berkisar Rp. 180.000,- 

Dari Makassar (Ibu Kota Propinsi Sulawesi Selatan) : 
Kolonodale - Makassar berjarak kurang lebih 661 Km, yang dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 17 jam dengan kendaraan darat. 
Tiket kendaraan (Bus Umum) berkisar Rp. 260.000,- s/d Rp. 350.000,- (tergantung jenisnya). 

Dari Luwuk (Ibu Kota Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah) : 
Menempuh perjalanan dengan kendaraan darat kurang lebih 4 jam hingga tiba di Desa Siliti, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara (Pelabuhan Ferry). Dengan menggunakan kapal Ferry, dalam waktu 5 jam menempuh perjalanan laut hingga tiba di Kolonodale. 
Tiket kendaraan Luwuk - Siliti berkisar Rp. 100.000,- 
Tiket Kapal Ferry (Siliti - Kolonodale) Rp. 50.000,- 

Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi sobat sekalian. Jika ada yang perlu informasi selanjutnya, silahkan menghubungi kami ataupun berkomentar dibawah ini.
Berikut profil singkat 10 (sepuluh) Kecamatan yang ada di Wilayah Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah :

Kecamatan Petasia :
Merupakan Kecamatan tempat berkedudukannya Ibukota Kabupaten Morowali Utara dengan Luas wilayah sebesar 646,34 Km2 atau dengan persentase luas wilayah sebesar 6,45 persen dari total wilayah Kabupaten Morowali Utara dengan ibukota Kecamatan yaitu Kolonodale.

Kecamatan Mamosalato :
Luas wilayah 1.480,00 Km2 atau sebesar 14,77 persen dari total luas wilayah Kabupaten Morowali Utara, berjarak 50 Mil dari Ibukota Kabupaten Morowali Utara, yang hanya dapat ditempuh dengan kendaraan Laut dengan Ibukota Kecamatan Tanasumpu.
 
Kecamatan Bungku Utara :
Memiliki jarak 45 Mil dari Ibukota Kabupaten Morowali Utara ditempuh dengan kendaraan Laut, dengan luas wilayah 2.406,79 Km2 atau sebesar 24,02 persen dari total wilayah Kabupaten Morowali Utara dan merupakan yang terluas di Kabupaten Morowali Utara dengan Ibukota Kecamatan di Baturube.
 
Kecamatan Soyo Jaya : Luas wilayah 605,51 km2 atau 6,04 persen dari total luas wilayah Kabupaten Morowali Utara. Ibukota Kecamatan Soyo Jaya berkedudukan di Lembah Sumara dengan jarak 35 Mil yang hanya dapat ditempuh dengan kendaraan Laut.
 
Kecamatan Petasia Barat :
Merupakan Kecamatan yang memiliki luas wilayah terkecil di Kabupaten Morowali Utara dengan ibukota Kecamatan di Tiu, memiliki luas wilayah 465,29 Km2 atau 1,90 persen dari total luas wilayah Kabupaten Morowali Utara berjarak 20 Km dari Ibukota Kabupaten.
 
Kecamatan Petasia Timur :
Ibukota Kecamatan Petasia Timur di Bungintimbe dengan Luas wilayah sebesar 523,61 Km2 atau 5,23 persen dari total luas wilayah Kabupaten Morowali Utara dan berjarak 34 Km dari Ibukota Kabupaten ditempuh dengan kendaraan darat.
 
Kecamatan Lembo :
Berjarak 34 Km dari Ibukota Kabupaten Morowali Utara, memiliki Luas wilayah 675,23 Km2 atau 6,74 persen dari total wilayah Kabupaten Morowali Utara dengan Ibukota Kecamatan di Beteleme.
 
Kecamatan Lembo Raya :
Luas wilayah Kecamatan Lembo Raya seluas 657,61 Km2, berjarak kurang lebih 44 Km dari Ibukota Kabupaten Morowali Utara, dengan Ibukota Kecamatan di Petumbea.
 
Kecamatan Mori Atas :
Luas wilayah 1.508.81 Km2 atau 15,06 persen dari total wilayah Kabupaten Morowali Utara berjarak 85 Km dari Ibukota Kabupaten Morowali Utara dengan Ibukota Kecamatan berkedudukan di Tomata.
 
Kecamatan Mori Utara :
Luas wilayah 1.048,93 Km2 atau 10,47 persen dari total luas wilayah Kabupaten Morowali Utara dan berjarak 90 Km dari Ibukota Kabupaten, dengan Ibukota Kecamatan di Mayumba.
 
Semoga bermanfaat....
Menurut Kantor Administrasi Pemerintahan Umum Kabupaten Morowali Utara (2014), Kabupaten ini ditetapkan sebagai daerah otonomi baru berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2013. Kata "Morowali" berasal dari bahasa Wana berarti "Gemuruh". Penggunaan kata Morowali juga merujuk pada tempat bermukimnya Suku Wana di kawasan pegunungan yang terletak di sekitar daerah aliran Sungai Bongka di daerah pedalaman Kecamatan Bungku Utara. Kata Morowali juga diabadikan sebagai nama "Cagar Alam Morowali".
Kabupaten Morowali Utara mayoritas dihuni Suku Mori. Pada masa Perang Dunia ke-2 berakhir, Pemerintah Hindia Belanda menata dan menjadikan wilayah Kerajaan Mori dan Bungku sebagai bagian dari wilayah pemerintahan langsung (government gebied), yang digabung dengan wilayah pemerintahan Sulawesi dan daerah bawahannya (government van Celebes en onderhoorigheden) berpusat di Makassar.
Bekas wilayah Kerajaan Mori dan Bungku dijadikan daerah swapraja yang berkedudukan di Kolonodale dan Bungku. Daerah Swapraja Mori dibagi 4 (empat) distrik yaitu Ngusumbatu,Sampalowo, Kangua dan Soyo serta kepala pemerintahan disebut kepala distrik.
Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1938 melakukan reorganisasi struktur pemerintahan dan memutuskan pada tahun 1942 wilayah Swapraja Mori dijadikan 3 (tiga) distrik yaitu Tomata berpusat di Tomata, Ngusumbatu di Tinompo, dan Petasia berpusat di Kolonodale
 
Baca Juga : Mengenal Sejarah Kerajaan Mori

Aspirasi politik untuk melahirkan Kabupaten Morowali Utara menjadi daerah otonom baru melalui resolusi DPRD/GR Provinsi Sulawesi Tengah No.l/DPRD/1966, yang isinya meminta kepada Pemerintah Pusat agar Provinsi Sulawesi Tengah dimekarkan menjadi 11 (sebelas) Daerah Otonom Tingkat II.
Kabupaten Morowali yang memiliki wilayah bekas Kerajaan Mori dan Kerajaan Bungku juga termasuk wilayah yang diusulkan menjadi daerah otonom baru. Seluruh masyarakat setempat yakni Suku Mori yang berada di Kecamatan Bungku Utara dan Kecamatan Mamosalato menyatakan aspirasi dan pernyataan sikap-bekas Swapraja Bungku mendukung dan kedua wilayah tersebut kini berada di wilayah Kabupaten Morowali Utara.

Pembentukan Kabupaten Morowali Utara merupakan implementasi aspirasi masyarakat, dan secara administrasi telah bergulir sejak tahun 2003. Dasar pembentukan Kabupaten Morowali Utara sebagai dampak dari Undang-Undang Nomor 51 Tahun 1999 tentang Pembentukkan Kabupaten Buol, Kabupaten Morowali dan Kabupaten Banggai Kepulauan yang bersifat ambigu, sehingga menimbulkan konflik politik dalam masyarakat dan menyimpan potensi terjadinya konflik horizontal.

Berdasarkan kondisi tersebut, Pemerintah Pusat Pada Tanggal 23 Oktober 2013, meresmikan terbentuknya Kabupaten Morowali Utara berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2013 tentang Pembentukan Kabupaten Morowali Utara di Provinsi Sulawesi Tengah dan mengangkat Penjabat Bupati Morowali Utara pada tanggal 12 November 2013 di Kolonodale. Gubernur Sulawesi Tengah juga secara resmi mencanangkan operasional Pemerintahan Kabupaten Morowali Utara.


Kabupaten Morowali Utara merupakan pemekaran dari Kabupaten Morowali. Kabupaten Morowali Utara sebelumnya merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Morowali. Dimana wilayahnya membentang dari arah Tenggara ke Barat dan melebar ke Bagian Timur yang berada di daratan Pulau Sulawesi. 

Sejarah singkat Kabupaten Morowali Utara ini dikutip dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Morowali Utara Tahun 2016 – 2021, pada BAB II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah, yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Morowali Utara Nomor 4 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Morowali Utara Tahun 2016 – 2021.

Gubernur Sulawesi Tengah Drs H. Longki Djanggola meresmikan penggunaan dua dermaga kapal penyeberangan berikut sebuah kapal Ferry yang dibangun dengan dana APBN Kementerian Perhubungan senilai Rp 76,7 miliar di Kolonodale, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, pada Rabu, 29 November 2013.

Kedua dermaga itu masing-masing berada di Kolonodale dengan nilai anggaran Rp 29 miliar dan di Baturube, Kecamatan Bungku Utara bernilai Rp 26 miliar yang dibangun secara bertahap sejak empat tahun lalu.



Setelah diputuskan dalam Rapat Paripurna DPR-RI pada 12 April lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada  tanggal 11 Mei 2013 mengesahkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2013 tentang Pembentukan Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah; dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2013 tentang Pembentukkan Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara.

Menurut UU No. 12/2013, wilayah Kabupaten Morowali Utara berasal dari sebagian wilayah Kabupaten Morowali, yang meliputi: a. Kec. Petasia; b. Kec. Petasia Timur; c. Kec. Lembo Raya; d. Kec. Lembo; e. Kec. Mori Atas; f. Kec. Mori Utara; g. Kec. Soyo Jaya; h. Kec. Bungku Utara; dan i. Kec. Mamosalato.


Penjabat Bupati Morowali, Sulawesi Tengah Baharuddin Tanriwali mengatakan bahwa penetapan penjabat bupati setempat segera diproses setelah perundangan daerah otonom baru itu selesai.

Baharuddin menargetkan paling lama 40 hari Penjabat Bupati Morowali Utara, hasil pemekaran Morowali itu akan ditetapkan.

"Target saya penjabat Bupati Morowali Utara sudah ada bersamaan dengan Penjabat Bupati Banggai Laut," kata Baharuddin di sela-sela pameran Expo Sulawesi Tengah di Palu, Minggu.

Dia mengatakan setelah DPR RI mengetok palu penetapan Morowali Utara sebagai daerah otonom baru ke 12 di Sulawesi Tengah pada 12 April 2013, dirinya akan segera melakukan langkah-langkah persiapan pengajuan penjabat bupati kepada gubernur.

Selain penjabat bupati, Baharuddin yang saat ini masih menjabat Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah memiliki peran penting dalam pengajuan penjabat bupati.

Baharuddin berkeyakinan proses penetapan penjabat Bupati Morowali Utara tidak berlangsung lama karena sarana pemerintahan seperti kantor bupati dan kantor instansi lainnya sudah siap karena sebelumnya pemerintahan Morowali pernah dipusatkan di Kolonodale, ibu kota Morowali Utara.

"Sama dengan Banggai Laut, dulu Banggai Kepulauan juga pernah beraktivitas di Banggai Laut," katanya.

Dia mengatakan pemerintah pusat juga akan mengalokasikan bantuan rehabilitasi bekas kantor Bupati Morowali di Kolonadale sebanyak Rp6 miliar karena sekitar delapan tahun bekas kantor itu tidak lagi digunakan setelah ibu kota Kabupaten Morowali pindah ke Bungku.

Morowali Utara merupakan daerah otonom baru yang ditetapkan DPR RI bersamaan dengan Konawe Kepulauan, Sulawesi Utara.

Morowali Utara memiliki luas 18.262 kilometer persegi terdiri dari sembilan kecamatan, 135 desa dan jumlah penduduk sebanyak 106.019 jiwa dengan ibu kota Kolonodale.



Kabupaten Morowali Utara menyimpan potensi wisata alam yang tak kalah dengan daerah lainnya di Sulawesi Tengah, salah satu diantaranya adalah Danau Tiu yang terletak di Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Danau ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata utama di Kabupaten tersebut namun belum dikelola dengan baik, tak heran bila nama danau ini masih terdengar asing bahkan oleh masyarakat Morowali Utara sendiri.

Berikut ini jalur akses untuk menuju ke Danau Tiu, Desa Tiu, Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah :
Palu (Ibu Kota Propinsi Sulawesi Tengah). Jarak antara Palu - Morowali Utara kurang lebih 400 Km, yang dapat ditempuh sekitar 12 jam dengan kendaraan jalur darat.
Luwuk (Kabupaten Banggai). Untuk jalur darat kurang lebih 610 Km, dan untuk jalur laut bisa menggunakan KM. Tilongkabila (PELNI) yang setiap bulannya berlabuh di Kolonodale, Ibu Kota Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Dan juga dapat menggunakan Kapal Ferry yang setiap minggu 3 kali berlabuh di Kolonodale. Dari Kolonodale ke Desa Tiu berjarak kuang lebih 15 Km yang dapat ditempuh 1 jam lewat jalur darat.
Demikian sedikit informasi tentang salah satu potensi wisata yang ada di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, semoga pemerintah daerah dapat mengembangkan potensi yang ada ini, untuk kemajuan bahkan perkembangan Kabupaten Morowali Utara kedepan. 
KOLONODALE, hari ini Minggu 3 Maret 2013 dilaksanakan Ibadah Penetapan Majelis Klasis Kolonodale dan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Klasis Kolonodale sekaligus pelaksanaan serah terima Jabatan Ketua Majelis Klasis Kolonodale yang lama kepada Ketua Majelis Klasis Kolonodale yang baru. Ibadah Penetepan ini dilaksanakan di Jemaat Eklesia Kolonodale pada Ibadah Minggu Jam 09.00 Wita.

Suku Mori dikenal sebagai masyarakat atau penduduk Kerajaan Mori yang wilayahnya terletak di pesisir timur Propinsi Sulawesi Tengah, tepatnya disekitar Teluk Tomori atau yang juga lazim disebut Teluk Tolo (diapit oleh jazirah tenggara dan jazirah timur laut pulau Sulawesi). Kerajaan Mori adalah salah satu kerajaan yang berkembang di Indonesia.
Masyarakat Wita Mori atau Suku Mori merupakan kelompok etnik yang cukup besar di Sulawesi Tengah yang saat ini berada dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Morowali. Sejarah terbentuknya Kerajaan Mori pada zaman dahulu ini sama halnya dengan pembentukan kerajaan-kerajaan di Sulawesi pada umumnya yaitu dari kisah kehadiran tokoh luar biasa. Walaupun memiliki corak dan karakter yang berbeda, legenda yang merupakan cikal bakal Kerajaan Mori ini berawal dari penemuan tokoh yang hadir secara luar biasa dan dapat diterima serta ditempatkan untuk memangku jabatan Mokole.
Dari kajian-kajian yang bersumber dari peninggalan leluhur yang didukung dengan kepustakaan yang ada, diketahui bahwa Kerajaan Wita Mori adalah kerajaan persemakmuran yang terdiri dari gabungan Kerajaan-Kerajaan/Wilayah Otonom yang mempunyai pimpinan sendiri-sendiri. Walaupun demikian, bahasa, adat istiadat serta silsilah Raja-Raja/Pemimpin yang pernah menduduki jabatan dapatlah diketahui bahwa mereka berasal dari satu keturunan ratusan tahun yang silam. Ikatan kekeluargaan ini yang merupakan pengikat solidaritas yang mendorong lahirnya kerajaan persemakmuran untuk membangun secara bersama-sama kesejahteraan dan pertahanan secara terpadu dalam menghadapi perang antar suku (Mengayau) dan menghalau ekspansi Kolonial Belanda yang mulai mencampuri urusan perdagangan di Teluk Tomori (Peristiwa Towi, 1948).

Dari beberapa kajian pula, baik yang berbau mitologi atau tokoh legendaris maupun cerita-cerita rakyat (folk tale), kisah Sawerigading turun temurun dikalangan tua-tua Wita Mori dapatlah dikatakan bahwa Kerajaan Wita Mori merupakan pengembangan dari Kerajaan Luwu. Hal ini dipertegas lagi dengan adanya Upeti yang harus dikirimkan setiap tahun kepada Datu Luwu dari beberapa kerajaan Sulawesi Tengah bagian timur, antara lain Kerajaan Bungku, Mori dan Banggai. 
Saat itu, Kerajaan Wita Mori dipimpin oleh seorang Ratu bernama Wedange yang dibantu oleh Karua/Tadulako bernama Kello dan berkedudukan di Wawontuko (Puncak Tongkat). Pada waktu itu Raja Mori Wedange tidak mau menghadiri panggilan Datu Luwu untuk bertemu di Uluanso sehubungan dengan keterlambatan pembayaran upeti dan hanya menyampaikan pesan lewat Karua Kello bahwa “saya lebih baik memilih mati”. Sejak saat itu, Kerajaan Luwu mulai menyerang Kerajaan Mori yang dalam pertempuran sengit berhasil menaklukkan serta menawan Raja Wedange dan keluarganya serta Karua Kello di Palopo.

Sejak saat itu Kerajaan Wita Mori mengalami kekosongan Pemimpin dalam menghadapi serangan Pengayau sampai dengan tampilnya seorang tokoh legendaris, seorang Tadulako dengan gelar Tandu Rumba-Rumba bernama Rorahako. Rorahako mengumpulkan para Tadulako dari setiap anak suku di Wita Mori untuk menghadap datu Luwu memohon agar Raja Wedange dibebaskan agar dapat kembali memimpin Kerajaan Wita Mori, permohonan itu direstui oleh Datu Luwu.  Namun, Wedange yang pada saat itu telah lanjut usia menunjuk anaknya Pangeran Anamba untuk menjadi Raja dengan syarat Kerajaan Wita Mori tidak lagi berkedudukan di Wawontuko, akan tetapi disuatu tempat yang lebih jauh ke pedalaman yaitu satu tempat yang bernama Pa’antoule (Petasia).

Demikianlah dikenal urutan kedudukan Ibu Kota Kerajaan Wita Mori yang sering berpindah tempat, mulai dari Wawontuko, Pa’a Ntoule, Petasia, Matanda’u (Mata Wundula) dengan urutan Raja-Raja sesuai data yang ada sejak di Pa’antoule yaitu : Raja Anamba, Raja Sungkawawo, Raja Lawoliyo, Raja Tosaleko, dan terakhir Raja Marunduh yang gugur dalam pertempuran melawan Ekspedisi Militer Kolonial Belanda, dikenal dengan Perang Wulanderi (Agustus 1907).

Secara kultural, wilayah Kerajaan Mori pada masa lampau diklasifikasikan atas tiga bagian yaitu (1) Mori Atas (Boven Mori) yang merupakan daerah pemukiman orang Mori dibagian barat. Pada bagian utara dan barat laut daerah ini terbentang padang ilalang yang luas, dan pada bagian selatan terbentang deretan pegunungan. (2) Mori Bawah (Beneden Mori) atau yang lebih dikenal dengan Lembo. Wilayah ini terbentang pada bagian timur dan tenggara dari wilayah Mori Atas, merupakan dataran rendah yang luas sehingga disebut Lembo. (3) Pada bagian selatan dari deretan pegunungan itu, yang dikategorikan sebagai bagian ketiga dari wilayah Kerajaan Mori  disebut daerah Danau Malili, atau juga dikenal dengan daerah Nuha. Di daerah ini terdapat tiga danau yaitu Danau Matano, Dana Moholona, dan Danau Towuti, merupakan daerah yang sangat indah dan menawan karena dihiasi gunung-gunung tinggi serta diantaranya terbentang dataran tinggi sampai ke wilayah Nuha. Wilayah Nuha saat ini telah menjadi bagian dari Kabupaten Luwu Timur Propinsi Sulawesi Selatan.

Batas wilayah Kerajaan Mori yaitu bagian utara berbatasan dengan wilayah Kerajaan Poso (sekarang Kabupaten Poso) dan Tojo, bagian barat berbatasan dengan wilayah pemukiman kelompok suku Pasa (Topasa), Lamusa (Tolamusa), dan Palande (Topalande) yang berada dalam dominasi kekuasaan Kerajaan Poso. Pada bagian selatan berbatasan dengan bekas wilayah Kerajaan Luwu (sekarang secara khusus berbatasan dengan wilayah Kabupaten Luwu Timur) dan wilayah Kerajaan Bungku. Pada bagian timur berbatasan dengan Teluk Tomori (Teluk Tolo) dan sebagian dari wilayah Kerajaan Bungku (saat ini menjadi Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali).
Suku Mori tergolong kelompok yang majemuk dan multikultural. Albert C. Kruyt (“Het Lanschap Mori” dalam : Medelingen van Wege het Nederlandsche Zendeling Genootschap, 1895) mengklasifikasikan penduduk Kerajaan Mori dalam dua kategori. Kategori pertama adalah penduduk pribumi, yaitu mereka yang telah lama menetap dan telah menjadi warga Kerajaan Mori. 
Penduduk pribumi ini terbagi lagi menjadi 3 golongan, yaitu : Orang Mori asli, penduduk asli bukan orang Mori (suku-suku lain) yang mendami wilayah kerajaan, dan penduduk suku-suku yang berasal dari daerah lain dan sejak berabad-abad yang lalu melakukan eksodus dan menetap di wilayah Kerajaan Mori. Kategori kedua adalah orang asing. Kategori ini menunjuk pada kelompok kaum yang datang dari luar Mori, bukan dengan tujuan untuk menetap dan menjadi penduduk Mori. Mereka adalah orang-orang yang bermata pencaharian sebagai peramu dan pedagang. Kehadirannya didaerah ini berkaitan dengan perkembangan perdagangan diwilayah Hindia Belanda, khususnya diluar Jawa dan Madura, yang pada waktu itu ada kebijakan pemerintah kolonial membuka kawasan ini menjadi kawasan pergadagangan bebas dan membuka beberapa pelabuhan sebagai pelabuhan bebas pada tahun 1847. Dengan adanya kebijakan perdagangan bebas ini maka terbukalah akses dengan pedagang-pedagang Bugis dan Cina yang terus berdatangan ke wilayah Mori.

Selain berdagang, juga mencari rempah-rempah yang memang sangat banyak dikandung oleh kekayaan alam Wita Mori. Dengan demikian maka terbuka juga peluang transaksi senjata api antara Raja serta para Mokole dengan pedagang-pedagang Bugis dan Cina ini, yang pada awalnya hanya sebagai hadiah dari para pedagang agar supaya mereka dapat diterima serta leluasa melakukan aktifitas niaganya.

Seluruh kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara ini tidak lepas dari peperangan, baik antar suku/kerajaan maupun perang melawan Kolonial Belanda yang ingin menguasai serta menjajah Bangsa Indonesia. Demikian pula dengan Kerajaan Mori, walaupun hanya kerajaan kecil namun tercatat pula sejarah yang mengisahkan tentang peperangan antar suku/kerajaan dan peperangan melawan Kolonial Belanda.

Sejak tahun 1670, Kerajaan Mori telah berupaya untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya dari Kerajaan-Kerajaan lain yang ingin merampas serta menduduki Kerajaan Mori. Diantaranya, perang melawan Kerajaan Luwu yang saat itu mengalami kekalahan bahkan Ratu Wedange pemimpin pertama Kerajaan Mori sempat menjadi tawanan politik Kerajaan Luwu. Selanjutnya perang melawan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1856 yang dikenal dengan Perang Mori Pertama (Perang Ensaondau), dipimpin oleh Raja Tosaleko yang pada saat itu telah mulai dapat menghimpun kekuatan setelah beberapa kali melakukan pembenahan dari struktur pemerintahan sebelumnya yang dianggap kurang memuaskan dalam mengurus kegiatan pemerintahan serta pertahanan keamanan kerajaan. Dalam perang Ensaondau tersebut, Belanda berhasil merebut dan mengibarkan benderanya di Benteng Ensaondau. Pasukan Belanda berhasil menduduki Tompira dan Benteng Ensaondau, membakar permukiman di Patongoa dan Wawontuko. Namun, ekspedisi pasukan Belanda ini dianggap kurang memuaskan karena telah banyak menelan korban dari pasukan militer serta mengeluarkan anggaran yang sangat besar, dan nyatanya Kerajaan Mori tetap berjaya menjadi satu kerajaan merdeka dan berdaulat penuh. 

Perang besar lainnya, yaitu Perang Mori Kedua (Perang Wulanderi) yang dipimpin oleh Raja Marunduh (Datu ri Tana) pada bulan Agustus 1907. Perang ini berakhir dengan kematian Raja Marunduh Datu ri Tana setelah mendapat serangan dari pasukan Marsose di Benteng Wulanderi. Kematian Raja Mori ini menimbulkan duka yang teramat dalam bagi rakyat Mori. Hal ini menjadi titik terlemah bagi perjuangan rakyat Mori dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya. Rakyat Mori dirundung duka dan berkabung sehingga sangat sulit untuk kembali membangkitkan semangat untuk meneruskan perlawanan. Pada akhirnya atas kesepakatan bersama para Mokole dan Tadulako, seluruh daerah pertahanan mengibarkan bendera putih sebagai tanda pernyataan menyerah. Dengan demikian pasukan ekspedisi Belanda menyataka bahwa seluruh wilayah Kerajaan Mori telah berhasil ditaklukkan dan dikuasai pada 20 Agustus 1907.
Sejak diterbitkannya Undang-Undang RI Nomor 52 Tahun 1999, seluruh wilayah permukiman penduduk Suku Mori kini berada dalam Wilayah Pemerintah Kabupaten Morowali (hasil pemekaran wilayah Kabupaten Poso), yang terpusat di 7 Kecamatan dari 16 Kecamatan yang ada, yaitu : (1) Kecamatan Mori Atas (kedudukan pemerintahan di Tomata), (2) Kecamatan Mori Utara (kedudukan pemerintahan di Mayumba), (3) Kecamatan Lembo (kedudukan pemerintahan di Beteleme), (4) Kecamatan Lembo Raya (kedudukan pemerintahan di Petumbea), (5) Kecamatan Petasia (kedudukan pemerintahan di Kolonodale), (6) Kecamatan Petasia Timur (kedudukan pemerintahan di Bungintimbe), Kecamatan Soyo Jaya (kedudukan pemerintahan di Lembah Sumara).
Elbert Bandau | Saya membuat Postingan tentang sejarah singkat Kerajaan Mori ini bertujuan untuk lebih memperkenalkan ke dunia luar, bahwa walaupun hanya Kerajaan kecil namun ikut berperan dalam perjuangan melawan Pemerintah Kolonial Belanda. Hal ini juga untuk menambah pengetahuan bagi anak-anak Mori yang mungkin belum terlalu mengenal asal-usul Suku Mori.
Tulisan ini bersumber dari : Edward L. Poelinggomang, 2008, Kerajaan Mori dan Sejarah Perlawanan Rakyat Wita Mori Menentang Penjajah Kolonial Belanda Tahun 1856 – 1907 (yang disusun untuk disahkan pada Seminar HPKWM Tahun 1992).