Februari 2013
Basuhlah Aku, Maka Aku Menjadi Lebih Putih Dari Salju
Mazmur 51 : 1 – 15
Dari perikop bacaan kita saat ini, kami mengambil satu ayat yang menjadi titik perenungan kita, yaitu ayatnya yang ke 9 bahagian (b), “Basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju”. Persoalan disekitar putih – memutih adalah merupakan hal yang sudah sering dan tentunya banyak kali kita lakukan. Bahkan hal inipun banyak mendominasi iklan-iklan ditelevisi. Mulai dari pemutih pakaian, pemutih kulit, sampai dengan pemutih wajah.

Untuk memiliki wajah dan kulit yang putih bersih misalnya, kita seringkali rela untuk menghabiskan banyak uang, membeli berbagai kosmetik untuk mendapatkan seperti apa yang kita harapkan. Dan hal ini tentunya tidaklah salah karena menyangkut hak kita setiap orang. Hal ini juga tidak ada orang lain yang dapat melarang. Namun yang menjadi persoalan disini adalah : “Kita sebagai manusia seringkali lebih mengejar putih secara lahiriah saja, kita lebih banyak berusaha untuk memutihkan diri, atau tampil lebih cantik dan gagah secara fisik saja, padahal yang namanya cantik dan gagah itu tentunya mencakup lahir dan bathin seseorang”.

Sangat jelas diceritakan, bagaimana Raja Daud harus bersujud di hadapan Tuhan.......memohon, agar hatinya dibasuh menjadi putih seperti salju......
Mengapa hal ini dilakukan oleh Raja Daud? Oleh karena dia sungguh menyadari betapa beban dosa yang dialaminya sangat berat, yang pernah dilakukannya dihadapan Tuhan. Daud sadar akan hal itu, setelah nabi Natan diutus oleh Tuhan untuk datang memperingatkan dia (dalam ayatnya yang ke 2 bacaan kita saat ini).
Sebagai seorang Raja, sebenarnya Daud memiliki kekuasaan besar untuk melakukan apa yang dingini hatinya, sejauh keinginan itu tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan tentunya.
Namun apa yang dilakukan Daud, sangat menyedihkan dan mendukakan hati Tuhan......dimana, Daud telah berzinah dengan Betsyeba dan untuk mencapai keinginan hatinya, ia tega merencanakan kematian Uria suami dari Betsyeba, dengan membiarkan Uria ditewaskan dengan pedang dimedan pertempuran (kejadian ini diceritkan dalam bahagian Alkitab yang lain, dapat kita lihat dalam 2 Samuel 12 : 1-15).
Beban yang harus ditanggung oleh Daud amatlah berat. Namun syukurlah, Tuhan masih mengasihi Daud, sehingga Ia mengutus nabi Natan untuk menegur Daud. Dan teguran inipun didengar oleh raja Daud, sehingga ia bertekad untuk merobah segala tindakan, membaharui diri dan berjalan sesuai rencana dan kehendak Tuhan. Teguran ini bukan hanya didengar begitu saja oleh Daud, tetapi dia benar-benar menyadari akan kesalahannya, dan ada niat yang sungguh-sungguh untuk merubah segala perilakunya yang buruk, dia ingin memperbaharui dirinya. Daud sungguh-sungguh menyadari perbuatannya dan bertobat, walaupun ia harus menanggung akibat dari perbuatannya itu. 

Kalau kita mencermati lebih dalam lagi Mazmur 51, perikop bacaan ini merupakan ungkapan penyesalan dan pertobatan Daud yang cukup luar biasa. Mungkin dari luar, Daud kelihatan “putih” dihadapan rakyatnya, oleh karena perjuangannya yang sangat luar biasa dengan sejumlah kesuksesannya sebagai seorang pemimpin. Tetapi dihadapan Tuhan, Daud benar – benar merasa tidak berarti apa-apa........... oleh sebab itu ia memohon dengan sangat kepada Tuhan untuk dapat mengampuni dosanya. Ia memohon agar Tuhan membasuhnya, sehingga hatinya yang kotor diubah menjadi putih seperti salju.
Pengakuan dan keterbukaan raja Daud dihadapan Tuhan inilah yang menjadi inti perenungan kita dalam persekutuan saat ini. Daud mengaku dihadapan Tuhan akan segala dosanya dan oleh karena itu dia memohon kiranya Tuhan masih berkenan untuk dapat memperbaharui hatinya. Kiranya hal ini juga dapat menggugah hati kita semua dan kita mau merenungkan lebih dalam lagi perjalanan hidup yang telah kita lalui.....
Ketika kita mau berkata jujur dan mau terbuka dihadapan Tuhan, tentunya setiap kita tidak terkecuali, pasti akan mengakui bahwa dihadapan Tuhan kita tidak berarti apa-apa. Dihadapan Tuhan kita tentunya adalah manusia yang serba berkekurangan, yang seringkali mudah jatuh kedalam dosa pencobaan.

Kebenaran Firman Tuhan saat ini, hendak mengarahkan saya, Bapak/Ibu/saudara-saudara dan kita semua, agar kita jangan hanya berupaya untuk menjadi putih secara lahiriah saja....tetapi lebih dari itu kita akan berupaya juga untuk menjadi putih secara lahir dan batin. Kita mau membuka diri dihadapan Tuhan, dan mau mengaku akan kesalahan yang pernah kita perbuat, serta memohon untuk dapat dipulihkan oleh Tuhan. Marilah kita terus berusaha untuk mengutamakan kejernihan hati. Ketika ada keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, yang berkecamuk didalam hati dan pikiran kita, kita dapat mengambil waktu untuk duduk berdoa dihadapan Tuhan, meminta pertolongan hanya kepada Tuhan Yesus.......... Sebab hanya dengan kuasa Yesus, kita dapat menerima pengampunan, sehingga kita bisa memiliki hati yang putih seperti salju.
Dengan demikian, pancaran kemuliaan Allah akan terus menyala lewat perbuatan dan segala tindakan kita dalam menjalani hari-hari kehidupan ini, dimana TUHAN masih menganugerahkan kehidupan bagi kita semua. Menjadi perenungan kita bersama, bahwa betapa mulia hati Tuhan Yesus, yang mau rela berkorban untuk membasuh dosa kita. Pertanyaan bagi kita semua.....Apakah kita masih ingin terus mendukakan hati Tuhan?

Terpujilah Yesus Kristus, Amin.
Teladan Dari Kisah Pencobaan Tuhan Yesus
Lukas 4 : 1 - 13


Pada satu sisi kitab Injil menyaksikan peristiwa yang dapat dikatakan sebagai pelantikan Yesus selaku Anak Allah disaat Dia dibaptis di sungai Yordan. Namun pada sisi lain (dalam perikop bacaan kita saat ini) Kitab Injil juga menyaksikan bagaimana Yesus selaku Anak Allah tidak mendapat pengecualian, tidak  mendapat dispensasi untuk terbebas dari pencobaan-pencobaan.
Dalam perenungan saat ini, kita tidak hendak mempersoalkan mengapa Yesus harus dicobai dimana Dia adalah Anak Allah, kita tidak hendak mempersoalkan apakah Yesus mempunyai peluang untuk kalah dalam pencobaan iblis. Tetapi satu hal yang sangat perlu untuk kita renungkan dan kita pedomani lewat perikop bacaan Lukas 4 : 1 – 13 saat ini adalah adalah Yesus telah memberikan teladan yang baik bagi kita semua, lewat pencobaan yang dialaminya, dimana imanNya telah mengalahkan segala kuasa iblis. Bukan karena kuasanya tetapi karena imanNya.

Dalam bagian alkitab yang lain (Lukas 3:21-22) Allah telah berfirman: “Engkaulah Anak yang kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan”. Dalam hal ini Allah telah melantik Yesus di hadapan publik bahwa Dia adalah Anak Allah. Oleh karena itu Yesus juga harus mampu membuktikan bagaimana kesetiaan dan ketaatanNya sebagai Anak Allah, dimana status pelantikan Yesus sebagai Anak Allah bukanlah suatu jaminan untuk membebaskanNya dari upaya jeratan iblis. Sebaliknya dengan statusNya itu, justru semakin menempatkan Dia untuk mengalami pencobaan yang lebih besar. Bahkan dalam perikop bacaan kita saat ini, tentunya kita semua setuju kalau dikatakan bahwa ini bukanlah sebuah pencobaan yang biasa-biasa saja, karena pencobaan yang dialami oleh Yesus adalah pencobaan dimana Dia berhadapan langsung dengan iblis pada saat itu.
Iblis datang mencobai Yesus pada saat Yesus sedang berpuasa selama 40 hari dipadang gurun. Dalam wujudNya sebagai manusia pada saat itu tentunya Yesus tunduk terhadap hukum alam yang berlaku, dimana hal ini akan membuat kondisi fisikNya menjadi lemah karena tidak makan selama 40 hari. Dan inilah peluang besar yang dilihat oleh iblis srhingga dia mengambil kesempatan untuk mencobai Tuhan Yesus. Mari kita melihat pencobaan pertama, saat iblis menyuruh Yesus untuk mengubah batu menjadi roti, namun Yesus yang sebenarnya mempunyai kuasa  untuk melakukan itu dan sebenarnya menguntungkan bagi diriNya sendiri yang sedang lapar setelah berpuasa, tidak mau melakukan begitu saja apa yang dikatakan iblis dan hanya berkata “manusia hidup bukan dari roti saja”. Tawaran iblis ini sebenarnya sangat menguntungkan bagi Yesus sendiri, dan kuasa yang ada dalam diriNya dapa melakukan semuanya itu, tetapi Yesus tidak mau begitu saja mengikuti apa yang menjadi kehendak iblis. Pencobaan yang kedua, Iblis menawarkan kepada Yesus suatu solusi atau jalan keluar yang terbaik untuk menyelesaikan misiNya selaku Anak Allah, yaitu menciptakan perdamaian dalam genggaman tanganNya. Tetapi dengan syarat, Yesus harus bersedia untuk menyembah Iblis cukup satu kali saja. Tawaran iblis tentunya sangat baik dan mudah dilakukan, sehingga Yesus tidak perlu bersusah payah menjalankan misinya sebagai Anak Allah, tetapi bagi Yesus, bagaimanapun luhur dan mulianya suatu tujuan, bilamana ditempuh dengan cara yang sesat atau mengingkari iman kepada Allah, tentunya itu adalah suatu perbuatan yang jahat. Sehingga iming-iming Iblis yang akan memberikan kerajaan dunia tetapi dengan menyembahnya, tentunya ini adalah suatu kebohongan. Kemudian yang ketiga, iblis menyuruh Yesus untuk naik ke bait Allah dan menjatuhkan diriNya ke bawah. Metode dan gagasan Iblis tersebut dipenuhi oleh konsep teologis yang didukung oleh ayat-ayat dalam Kitab Suci dan nubuat para nabi. Dimana, bila Yesus muncul dari bubungan Bait Allah, maka Bait Allah akan menjadi pusat ibadah seluruh bangsa. Bait Allah atau Sion akan menjadi pusat yang mampu menarik umat Israel dan seluruh bangsa untuk berduyun-duyun mengunjunginya. Sehingga bilamana Yesus yang sedang berpuasa di padang gurun berkenan pergi dan naik ke atas bubungan Bait Allah, lalu Dia turun sambil disaksikan oleh umat, maka pastilah gelar ke-Mesias-an Yesus segera diakui. Namun Yesus juga tidak melakukan semuanya itu, Dia hanya berkata kepada iblis : “Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!".  Perkataan Yesus ini memperhadapkan kepada Iblis untuk menyadari jati-diri Yesus sendiri selaku Anak Allah. Dalam hal ini Yesus bukan hanya Anak Allah dalam pengertian atau konsep teologis umat Israel, yakni seorang malaikat atau orang yang diurapi; tetapi juga Dia adalah yang sehakikat dengan Allah.

Dalam keberadaan kehidupan kita masing-masing, siapapun kita tentunya mempunyai kuasa atau wewenang ataupun pengaruh  tertentu baik itu dalam kehidupan kita didalam rumah tangga masing-masing, ditempat kerja ataupun didalam berbagai komunitas-komunitas kita masing-masing, dalam organisasi dan lain sebagainya. Dan jika kita mau jujur, tentunya pencobaan-pencobaan seperti yang dialami oleh Yesus, pernah juga kita alami walaupun dalam bentuk yang lain, dengan cara – cara yang lain. Contoh kecil, suami sebagai kepala rumah tangga misalnya, yang memiliki penghasilan atau gaji sebagai sumber kehidupan keluarga, merasa mempunyai hak atau berkuasa atas gajinya, bisa saja karena merasa memiliki hak sepenuhnya atas gaji tersebut, dia akan berfoya – foya menghamburkan gajinya hanya untuk kepentingannya sendiri, atau hanya untuk kesenangannya dirinya sendiri tanpa memikirkan kehidupan keluarganya. Contoh lain, mungkin kita sebagai pimpinan didalam suatu organisasi, atau dalam suatu komunitas apa saja, manakala kita mengalami keadaan yang kritis, butuh uang yang lebih untuk kepentingan keluarga misalnya, kita akan mencoba – coba untuk mengambil hak orang lain yang bukan menjadi hak kita. Karena merasa memiliki kuasa, maka seenaknya melakukan hal – hal seperti itu. Memang kita mempunyai tujuan yang mulia, yaitu untuk mensejahterakan keluarga kita, namun cara kita yang salah dan telah merugikan orang lain. Ini hanya contoh, dan tidak menutup kemungkinan masih banyak contoh-contoh yang lain, yang seringkali tanpa kita sadari bahwa semuanya itu adalah bisikan dari iblis, dan kita telah tunduk atas kuasa iblis tersebut.  Sebagai manusia biasa, tentunya kita memiliki logika dan cara pandang seperti apa yang disebutkan diatas (dalam pencobaan Tuhan Yesus). Apa salahnya kita menggunakan kekuasaan, kekuatan, wewenang dan pengaruh yang ada untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri. Bilamana kita mampu untuk melakukan sesuatu, apalagi pada saat yang kritis kita membutuhkan, apa salahnya kita menggunakan sebentar saja atau sekali-sekali saja kekuasaan itu?

Tuhan Yesus melawan iblis dengan sikap ketaatan dan kesetiaanNya kepada firman Allah. Itu sebabnya dalam pencobaanNya, Tuhan Yesus tidak pernah tergoda untuk menggunakan kekuasaan, wewenang dan pengaruhNya selaku Anak Allah untuk kepentingan diriNya sendiri. KuasaNya sebagai Anak Allah hanya digunakan oleh Tuhan Yesus untuk kesejahteraan dan keselamatan umat manusia. Tuhan Yesus juga tetap mawas diri dan tidak tergoda untuk mengkompromikan antara kebenaran dengan kejahatan. Yang mana tujuanNya yang mulia tidak mau Dia capai dengan menyembah Iblis. Tuhan Yesus juga tidak mengikuti kehendak Iblis untuk mencari popularitas diri dengan menggunakan Bait Allah. Bagi Yesus, tidaklah cukup sekedar membangun iman dengan pembenaran diri berdasarkan ayat-ayat Kitab Suci. Sebab tanpa dibangun oleh hati yang tulus, maka segala tindakan kita yang tampak suci justru dilakukan untuk mencobai Allah. Iman seperti inilah yang akan menjadi pedoman untuk memampukan kita menjalankan tugas kewajiban dan segala aktifitas kita dengan benar dihadapan Allah.Kualitas jati-diri kita terlihat saat kita tidak memiliki apa-apa, seperti kondisi lapar dan berkekurangan. Tetapi juga akan terlihat saat kita memiliki apa-apa seperti kuasa, wewenang dan pengaruh. Dalam dua kesempatan inilah, iblis melihat peluang untuk mencobai kita manusia, disaat kita lapar dan berkekurangan dan disaat kita berkelebihan, mempunyai kuasa, wewenang dan pengaruh. Pertanyaan untuk menjadi perenungan kita semua :
  1. Apakah kita akan tetap mampu bersyukur saat tidak memiliki apa-apa , dan pada sisi lain memiliki sikap mawas diri saat berkelebihan dan memiliki kuasa atau wewenang?
  2. Apakah kita mampu menolak untuk mengkompromikan tujuan yang tampak mulia dengan cara mengingkari iman atau tindakan menyembah iblis?
  3.  Apakah kita mampu menolak setiap tindakan manipulatif saat melayani Tuhan hanya untuk kemuliaan diri kita sendiri?
Ketiga faktor inilah yang akan membangun iman kita dan memberikan kekuatan ketika kita diperhadapkan dengan pencobaan iblis, sikap mawas diri, tidak pernah berkompromi dengan kua¬sa dunia, dan menolak tindakan manipulatif serta pemujaan diri sendiri hanya demi popularitas. Marilah Bapak/Ibu/Jemaat yang dikasihi Tuhan, untuk kita tetap mengingat akan ketiga hal itu, dan tetap mempedomani sikap dan tindakan Yesus ketika kita mengalami pencobaan iblis. Yakinlah, Tuhan akan selalu menuntun dan menyertai dalam setiap aktifitas kita sehari-hari. Terpujilah Yesus Kristus, AMIN.
PELAYAN ALLAH
Bacaan : Korintus 6 : 1 – 10

Mengawali perenungan firman Tuhan saat ini, saya hendak mengatakan bahwa kita semua sebagai orang yang mengaku dan percaya kepada Yesus Kristus atau sebagai pengikut Kristus adalah sebagai alat atau dapat dikatakan sebagai pelayan Tuhan baik itu didalam kehidupan kita berjemaat maupun didalam kehidupan bermasyarakat dan didalam kehidupan berumah tangga. Hal ini saya ingin katakan, oleh karena kadangkala kita memahami bahwa pelayan Tuhan atau yang mempunyai tugas melayani Tuhan hanyalah para pendeta ataupun majelis. Saya tidak tahu apakah didalam ilmu teologia ada pengertian lain tentang pelayan Tuhan, Namun menurut pemahaman saya, sesungguhnya ketika kita sebagai orang yang mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Allah kita maka sesungguhnya kita telah menjadi alat untuk melanjutkan misi pelayanan Yesus Kristus, sehingga kita semua dapat dikatakan sebagai pelayan Tuhan, atau dalam pengertian lain kita sebagai perpanjangan tangan Tuhan.

Salah satu kewajiban kita sebagai pengikut Kristus adalah melayani Tuhan dan sesama. Tugas pelayanan ini banyak bentuknya dan dalam berbagai situasi kita dapat melakukannya baik didalam kehidupan berjemaat atau kehidupan bermasyarakat ataupun didalam kehidupan keluarga kita masing-masing. Dan untuk melaksanakan tugas pelayanan ini tentunya tidak hanya sebagai pemimpin ibadah di dalam ibadah evang atau ibadah kategorial, tidak hanya mendoakan orang – orang sakit di rumah sakit, tetapi tugas pelayanan kita sebagai pengikut Kristus mencakup seluruh aspek kehidupan yang berpedoman pada ajaran Yesus Kristus melalui kisah penggembalaanNya selama Ia berada didunia. Contoh : dalam kehidupan berumah tangga, tentunya suami sebagai Kepala keluarga akan melayani isteri dan demikian sebaliknya, saling memberikan motivasi, saling melengkapi ketika ada kekurangan dan saling menasihati ketika ada hal – hal yang dilakukan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Sebagai orang tua dari anak – anak kita, tentunya kita berkewajiban untuk mendidik serta membimbing anak – anak kearah yang benar sesuai ajaran Kristus. Sebagai anggota jemaat, tentunya kita juga berkewajiban untuk saling menasihati ketika ada sesama kita yang mungkin telah melakukan hal – hal yang tidak berkenan dengan kehendak Allah, demikian pula ketika kita hidup ditengah – tengah masyarakat sekitar kita. Itu semua merupakan salah satu contoh tugas kita sebagai pengikut Kristus, yaitu melayani sesama kita. Dan ketika kita melakukan hal ini, ada Firman Tuhan yang berkata : jika kamu melayani sesamamu manusia maka kamu juga telah melayani Tuhan Allahmu.

Perikop bacaan ini merupakan Surat Rasul Paulus yang ditujukan kepada Jemaat di Korintus. Ayat 1 bacaan kita saat ini, rasul Paulus berkata : sebagai teman sekerja, kami menasihatkan kamu. Hal ini dikatakannya kepada jemaat di Korintus, rasul Paulus menganggap bahwa semua jemaat adalah teman sekerja, yang sama – sama mengemban tugas untuk melanjutkan misi Yesus Kristus. Dan dari keseluruhan bacaan kita saat ini, kami mengambil 2 ayat yang menjadi titik perenungan kita yaitu ayat 3 dan 4 (II Korintus 6 : 3 dan 4) “dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu : dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran.”

Dari nats yang menjadi titik perenungan ini, saya mengambil kesimpulan atau menarik satu tema dari apa yang telah ditunjukkan oleh Rasul Paulus yaitu “Integritas seorang pelayan”. Integritas kalau dalam kamus besar bahasa indonesia dapat diartikan sebagai : mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan serta kejujuran. Atau dapat disederhanakan demikian : “apa yang kita pikirkan harus sama dengan yang kita katakan, dan apa yang kita katakan harus sama dengan tindakan yang kita lakukan, dimanapun dan kapanpun. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan.... Rasul Paulus dan rekan-rekannya telah membuktikan integritas mereka sebagai pelayan Allah.

Mari kita perhatikan kalimat “dalam segala hal” pada ayatnya yang 4. Rasul Paulus menjaga integritas dalam setiap bagian kehidupan. Yaitu, mudah untuk mempraktekkan kasih, kesabaran, kemurnian, dan ketaatan kepada Roh Kudus dalam situasi apapun, apakah situasi yang baik maupun dalam situasi ketika kesusahan melanda, orang-orang mengumpat dan memfitnah, keuangan tidak lancar, bahkan ketika maut mengancam. Rasul Paulus tetap tegar dalam situasi atau permasalahan apapun yang mereka hadapi didalam menjalankan tugas pelayanannya. Itulah yang diteladankan oleh Rasul Paulus dan rekan – rekannya sehigga merekapun dapat mendorong jemaat di Korintus untuk melakukan hal yang sama. Jemaat yang Terkasih.... Menjadi pertanyaan bagi kita semua, dan mari kita memeriksa diri kita masing – masing, apakah kita sudah menyatakan sikap sebagai pelayan Allah dalam seluruh bagian kehidupan kita, baik itu dirumah, dilingkungan berjemaat, dilingkungan kerja kita masing – masing, dan dalam aktifitas kita ditengah – tengah kehidupan bermasyarakat. Ataukah orang lain atau sesama kita hanya melihat kita sebagai batu sandungan?

Lewat kebenaran Firman Tuhan saat ini, semoga akan menuntun kita agar dapat belajar bersama – sama untuk menjadi pelayan Allah yang berintegritas (atau yang berlaku jujur sesuai dengan perkataan kita) dan kita tidak akan menjadi batu sandungan, tetapi akan menjadi berkat bagi orang lain. Dalam kehidupan berumah tangga, tentunya kita menginginkan anak – anak kita agar terus bertumbuh dalam iman hanya kepada Yesus Kristus, kita akan menuntun mereka ke jalan yang benar.

Dalam kehidupan berjemaat tentunya kita juga menginginkan adanya keutuhan jemaat, semakin hari akan terus berkembang menujuh kearah yang lebih baik, dalam kehidupan dilingkungan kerja kita masing-masing ataupun ditengah – tengah masyarakat tentunya kita juga menginkan suasana yang lebih baik, mengarah ke pada kehidupan yang akan saling mensejahterakan diantara seluruh komponen masyarat. Kalau kita menginginkan semuanya itu, maka tentunya hal ini HARUS dimulai dari diri kita sendiri. Kita akan memulai untuk berkata – kata dan bertindak dalam status kita sebagai Pelayan Tuhan.

Ketika ada permasalahan yang menghimpit kehidupan kita, kita akan tetap tegar untuk melayani Tuhan. Ketika kita menghadapi suatu permasalahan dengan sesama kita, kita akan terus berupaya untuk berdamai, sehingga kitapun tidak akan menjadi batu sandungan bagi sesama kita dalam mengemban misi penyelamatan Yesus Kristus, demikian sebaliknya sesama kita tidak akan menjadi batu sandungan bagi diri kita sendiri. Kalau kita mampu untuk memulai dari diri kita sendiri maka tentunya kita akan mampu juga untuk menerapkan didalam kehidupan keluarga, jemaat dan masyarakat.

Sekali lagi, Ingatlah bahwa : STATUS “PELAYAN ALLAH” BAGI KITA SEMUA SEBAGAI PENGIKUT KRISTUS, BUKAN HANYA BERLAKU DIDALAM TEMBOK GEREJA, TETAPI STATUS ITU BERLAKU DISETIAP WAKTU DAN SEGALA TEMPAT SERTA DALAM SITUASI APAPUN.
Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin
Suku Mori dikenal sebagai masyarakat atau penduduk Kerajaan Mori yang wilayahnya terletak di pesisir timur Propinsi Sulawesi Tengah, tepatnya disekitar Teluk Tomori atau yang juga lazim disebut Teluk Tolo (diapit oleh jazirah tenggara dan jazirah timur laut pulau Sulawesi). Kerajaan Mori adalah salah satu kerajaan yang berkembang di Indonesia.
Masyarakat Wita Mori atau Suku Mori merupakan kelompok etnik yang cukup besar di Sulawesi Tengah yang saat ini berada dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Morowali. Sejarah terbentuknya Kerajaan Mori pada zaman dahulu ini sama halnya dengan pembentukan kerajaan-kerajaan di Sulawesi pada umumnya yaitu dari kisah kehadiran tokoh luar biasa. Walaupun memiliki corak dan karakter yang berbeda, legenda yang merupakan cikal bakal Kerajaan Mori ini berawal dari penemuan tokoh yang hadir secara luar biasa dan dapat diterima serta ditempatkan untuk memangku jabatan Mokole.
Dari kajian-kajian yang bersumber dari peninggalan leluhur yang didukung dengan kepustakaan yang ada, diketahui bahwa Kerajaan Wita Mori adalah kerajaan persemakmuran yang terdiri dari gabungan Kerajaan-Kerajaan/Wilayah Otonom yang mempunyai pimpinan sendiri-sendiri. Walaupun demikian, bahasa, adat istiadat serta silsilah Raja-Raja/Pemimpin yang pernah menduduki jabatan dapatlah diketahui bahwa mereka berasal dari satu keturunan ratusan tahun yang silam. Ikatan kekeluargaan ini yang merupakan pengikat solidaritas yang mendorong lahirnya kerajaan persemakmuran untuk membangun secara bersama-sama kesejahteraan dan pertahanan secara terpadu dalam menghadapi perang antar suku (Mengayau) dan menghalau ekspansi Kolonial Belanda yang mulai mencampuri urusan perdagangan di Teluk Tomori (Peristiwa Towi, 1948).

Dari beberapa kajian pula, baik yang berbau mitologi atau tokoh legendaris maupun cerita-cerita rakyat (folk tale), kisah Sawerigading turun temurun dikalangan tua-tua Wita Mori dapatlah dikatakan bahwa Kerajaan Wita Mori merupakan pengembangan dari Kerajaan Luwu. Hal ini dipertegas lagi dengan adanya Upeti yang harus dikirimkan setiap tahun kepada Datu Luwu dari beberapa kerajaan Sulawesi Tengah bagian timur, antara lain Kerajaan Bungku, Mori dan Banggai. 
Saat itu, Kerajaan Wita Mori dipimpin oleh seorang Ratu bernama Wedange yang dibantu oleh Karua/Tadulako bernama Kello dan berkedudukan di Wawontuko (Puncak Tongkat). Pada waktu itu Raja Mori Wedange tidak mau menghadiri panggilan Datu Luwu untuk bertemu di Uluanso sehubungan dengan keterlambatan pembayaran upeti dan hanya menyampaikan pesan lewat Karua Kello bahwa “saya lebih baik memilih mati”. Sejak saat itu, Kerajaan Luwu mulai menyerang Kerajaan Mori yang dalam pertempuran sengit berhasil menaklukkan serta menawan Raja Wedange dan keluarganya serta Karua Kello di Palopo.

Sejak saat itu Kerajaan Wita Mori mengalami kekosongan Pemimpin dalam menghadapi serangan Pengayau sampai dengan tampilnya seorang tokoh legendaris, seorang Tadulako dengan gelar Tandu Rumba-Rumba bernama Rorahako. Rorahako mengumpulkan para Tadulako dari setiap anak suku di Wita Mori untuk menghadap datu Luwu memohon agar Raja Wedange dibebaskan agar dapat kembali memimpin Kerajaan Wita Mori, permohonan itu direstui oleh Datu Luwu.  Namun, Wedange yang pada saat itu telah lanjut usia menunjuk anaknya Pangeran Anamba untuk menjadi Raja dengan syarat Kerajaan Wita Mori tidak lagi berkedudukan di Wawontuko, akan tetapi disuatu tempat yang lebih jauh ke pedalaman yaitu satu tempat yang bernama Pa’antoule (Petasia).

Demikianlah dikenal urutan kedudukan Ibu Kota Kerajaan Wita Mori yang sering berpindah tempat, mulai dari Wawontuko, Pa’a Ntoule, Petasia, Matanda’u (Mata Wundula) dengan urutan Raja-Raja sesuai data yang ada sejak di Pa’antoule yaitu : Raja Anamba, Raja Sungkawawo, Raja Lawoliyo, Raja Tosaleko, dan terakhir Raja Marunduh yang gugur dalam pertempuran melawan Ekspedisi Militer Kolonial Belanda, dikenal dengan Perang Wulanderi (Agustus 1907).

Secara kultural, wilayah Kerajaan Mori pada masa lampau diklasifikasikan atas tiga bagian yaitu (1) Mori Atas (Boven Mori) yang merupakan daerah pemukiman orang Mori dibagian barat. Pada bagian utara dan barat laut daerah ini terbentang padang ilalang yang luas, dan pada bagian selatan terbentang deretan pegunungan. (2) Mori Bawah (Beneden Mori) atau yang lebih dikenal dengan Lembo. Wilayah ini terbentang pada bagian timur dan tenggara dari wilayah Mori Atas, merupakan dataran rendah yang luas sehingga disebut Lembo. (3) Pada bagian selatan dari deretan pegunungan itu, yang dikategorikan sebagai bagian ketiga dari wilayah Kerajaan Mori  disebut daerah Danau Malili, atau juga dikenal dengan daerah Nuha. Di daerah ini terdapat tiga danau yaitu Danau Matano, Dana Moholona, dan Danau Towuti, merupakan daerah yang sangat indah dan menawan karena dihiasi gunung-gunung tinggi serta diantaranya terbentang dataran tinggi sampai ke wilayah Nuha. Wilayah Nuha saat ini telah menjadi bagian dari Kabupaten Luwu Timur Propinsi Sulawesi Selatan.

Batas wilayah Kerajaan Mori yaitu bagian utara berbatasan dengan wilayah Kerajaan Poso (sekarang Kabupaten Poso) dan Tojo, bagian barat berbatasan dengan wilayah pemukiman kelompok suku Pasa (Topasa), Lamusa (Tolamusa), dan Palande (Topalande) yang berada dalam dominasi kekuasaan Kerajaan Poso. Pada bagian selatan berbatasan dengan bekas wilayah Kerajaan Luwu (sekarang secara khusus berbatasan dengan wilayah Kabupaten Luwu Timur) dan wilayah Kerajaan Bungku. Pada bagian timur berbatasan dengan Teluk Tomori (Teluk Tolo) dan sebagian dari wilayah Kerajaan Bungku (saat ini menjadi Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali).
Suku Mori tergolong kelompok yang majemuk dan multikultural. Albert C. Kruyt (“Het Lanschap Mori” dalam : Medelingen van Wege het Nederlandsche Zendeling Genootschap, 1895) mengklasifikasikan penduduk Kerajaan Mori dalam dua kategori. Kategori pertama adalah penduduk pribumi, yaitu mereka yang telah lama menetap dan telah menjadi warga Kerajaan Mori. 
Penduduk pribumi ini terbagi lagi menjadi 3 golongan, yaitu : Orang Mori asli, penduduk asli bukan orang Mori (suku-suku lain) yang mendami wilayah kerajaan, dan penduduk suku-suku yang berasal dari daerah lain dan sejak berabad-abad yang lalu melakukan eksodus dan menetap di wilayah Kerajaan Mori. Kategori kedua adalah orang asing. Kategori ini menunjuk pada kelompok kaum yang datang dari luar Mori, bukan dengan tujuan untuk menetap dan menjadi penduduk Mori. Mereka adalah orang-orang yang bermata pencaharian sebagai peramu dan pedagang. Kehadirannya didaerah ini berkaitan dengan perkembangan perdagangan diwilayah Hindia Belanda, khususnya diluar Jawa dan Madura, yang pada waktu itu ada kebijakan pemerintah kolonial membuka kawasan ini menjadi kawasan pergadagangan bebas dan membuka beberapa pelabuhan sebagai pelabuhan bebas pada tahun 1847. Dengan adanya kebijakan perdagangan bebas ini maka terbukalah akses dengan pedagang-pedagang Bugis dan Cina yang terus berdatangan ke wilayah Mori.

Selain berdagang, juga mencari rempah-rempah yang memang sangat banyak dikandung oleh kekayaan alam Wita Mori. Dengan demikian maka terbuka juga peluang transaksi senjata api antara Raja serta para Mokole dengan pedagang-pedagang Bugis dan Cina ini, yang pada awalnya hanya sebagai hadiah dari para pedagang agar supaya mereka dapat diterima serta leluasa melakukan aktifitas niaganya.

Seluruh kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara ini tidak lepas dari peperangan, baik antar suku/kerajaan maupun perang melawan Kolonial Belanda yang ingin menguasai serta menjajah Bangsa Indonesia. Demikian pula dengan Kerajaan Mori, walaupun hanya kerajaan kecil namun tercatat pula sejarah yang mengisahkan tentang peperangan antar suku/kerajaan dan peperangan melawan Kolonial Belanda.

Sejak tahun 1670, Kerajaan Mori telah berupaya untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya dari Kerajaan-Kerajaan lain yang ingin merampas serta menduduki Kerajaan Mori. Diantaranya, perang melawan Kerajaan Luwu yang saat itu mengalami kekalahan bahkan Ratu Wedange pemimpin pertama Kerajaan Mori sempat menjadi tawanan politik Kerajaan Luwu. Selanjutnya perang melawan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1856 yang dikenal dengan Perang Mori Pertama (Perang Ensaondau), dipimpin oleh Raja Tosaleko yang pada saat itu telah mulai dapat menghimpun kekuatan setelah beberapa kali melakukan pembenahan dari struktur pemerintahan sebelumnya yang dianggap kurang memuaskan dalam mengurus kegiatan pemerintahan serta pertahanan keamanan kerajaan. Dalam perang Ensaondau tersebut, Belanda berhasil merebut dan mengibarkan benderanya di Benteng Ensaondau. Pasukan Belanda berhasil menduduki Tompira dan Benteng Ensaondau, membakar permukiman di Patongoa dan Wawontuko. Namun, ekspedisi pasukan Belanda ini dianggap kurang memuaskan karena telah banyak menelan korban dari pasukan militer serta mengeluarkan anggaran yang sangat besar, dan nyatanya Kerajaan Mori tetap berjaya menjadi satu kerajaan merdeka dan berdaulat penuh. 

Perang besar lainnya, yaitu Perang Mori Kedua (Perang Wulanderi) yang dipimpin oleh Raja Marunduh (Datu ri Tana) pada bulan Agustus 1907. Perang ini berakhir dengan kematian Raja Marunduh Datu ri Tana setelah mendapat serangan dari pasukan Marsose di Benteng Wulanderi. Kematian Raja Mori ini menimbulkan duka yang teramat dalam bagi rakyat Mori. Hal ini menjadi titik terlemah bagi perjuangan rakyat Mori dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya. Rakyat Mori dirundung duka dan berkabung sehingga sangat sulit untuk kembali membangkitkan semangat untuk meneruskan perlawanan. Pada akhirnya atas kesepakatan bersama para Mokole dan Tadulako, seluruh daerah pertahanan mengibarkan bendera putih sebagai tanda pernyataan menyerah. Dengan demikian pasukan ekspedisi Belanda menyataka bahwa seluruh wilayah Kerajaan Mori telah berhasil ditaklukkan dan dikuasai pada 20 Agustus 1907.
Sejak diterbitkannya Undang-Undang RI Nomor 52 Tahun 1999, seluruh wilayah permukiman penduduk Suku Mori kini berada dalam Wilayah Pemerintah Kabupaten Morowali (hasil pemekaran wilayah Kabupaten Poso), yang terpusat di 7 Kecamatan dari 16 Kecamatan yang ada, yaitu : (1) Kecamatan Mori Atas (kedudukan pemerintahan di Tomata), (2) Kecamatan Mori Utara (kedudukan pemerintahan di Mayumba), (3) Kecamatan Lembo (kedudukan pemerintahan di Beteleme), (4) Kecamatan Lembo Raya (kedudukan pemerintahan di Petumbea), (5) Kecamatan Petasia (kedudukan pemerintahan di Kolonodale), (6) Kecamatan Petasia Timur (kedudukan pemerintahan di Bungintimbe), Kecamatan Soyo Jaya (kedudukan pemerintahan di Lembah Sumara).
Elbert Bandau | Saya membuat Postingan tentang sejarah singkat Kerajaan Mori ini bertujuan untuk lebih memperkenalkan ke dunia luar, bahwa walaupun hanya Kerajaan kecil namun ikut berperan dalam perjuangan melawan Pemerintah Kolonial Belanda. Hal ini juga untuk menambah pengetahuan bagi anak-anak Mori yang mungkin belum terlalu mengenal asal-usul Suku Mori.
Tulisan ini bersumber dari : Edward L. Poelinggomang, 2008, Kerajaan Mori dan Sejarah Perlawanan Rakyat Wita Mori Menentang Penjajah Kolonial Belanda Tahun 1856 – 1907 (yang disusun untuk disahkan pada Seminar HPKWM Tahun 1992).
Hal ini terjadi setelah saya mengganti template blog, dan mulai saat itu kode error tersebut muncul terus-menerus. Setelah bolak-balik tanya mbah Google, akhirnya saya mendapat solusinya.
  

Jika sobat blogger pernah mengalami masalah ini, langsung saja sobat bloger cari file .js di sidebar seperti gambar di bawah ini :

Cari di setiap sidebar pada widget yang sobat gunakan. Jjika susah carinya coba sobat tekan CTRL+F kemudian ketikan .js
Kalau sudah ketemu, sebaiknya sobat menghapus sidebar yang da file tersebut.
Nah sampai disitu mungkin sobat sudah bisa mengatasinya, namun jika file berformat .js di sidebar tidak ada, coba sobat klik template pada dashboar (kode lingkar merah) lalu klik HTML (juga kode lingkar merah) seperti di bawah ini :
Kalau sudah, sekarang tinggal cari file yang berformat .js caranya tekan CTRL+F ketikan kata ini .js (Gambar 1) biasanya file ini da di CSS Jquery (Gambar 2) jadi sebaiknya sobat cari di bawah file seperti ini :
 (Gambar 1)

(Gambar 2)

Lanjutkan pencariannya sampai sobat menemukan file .js yang error.
Kalau sobat sudah menemukan file .js yang eror sebaiknya sobat ganti dengan file tentang .js yang sama.

Demikian sedikit penjelasannya, semoga trik ini bermanfaat dan Blog sobat kembali seperti apa yang diharapkan.
 


Buat para blogger dan semua pengguna internet yang sudah sempat nyasar di blog ini, yang mungkin merasa tidak nyaman dan tidak mendapat apa yang ingin dicari, saya menyampaikan permohonan maaf.
Hal ini tidak lain oleh karena blog saya masih baru dan sedang dalam tahap penyelesaian.....

Semoga dimaklumi, dan nantinya bisa kembali berkunjung jika blog ini selesai dibuat....

Terima kasih
Kurang lebih 4 tahun yang lalu, saya pernah membuat blog. Tetapi karena keterbatasan koneksi di daerah saya sehingga semuanya berantakan....wuuuah

Kali ini, kembali saya mencoba untuk membangun blog baru, semoga bisa bermanfaat untuk semua penduduk tanah air.

Selamat berkenalan, berkawan, saling melengkapi satu dengan yang lain untuk kemajuan bersama.....